IndSight — Kasus bullying di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga meluas ke media sosial.
Data lembaga perlindungan anak, laporan pendidikan, serta analisis percakapan digital menunjukkan bahwa bullying telah bertransformasi menjadi masalah sosial yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan keselamatan anak.
Pemantauan isu berbasis data menjadi krusial untuk memahami pola, eskalasi, dan respons publik terhadap kasus perundungan yang terus berulang.
Data Kasus Bullying 2025
Sepanjang 2025, laporan resmi menunjukkan tingginya angka perundungan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat lebih dari 1.000 pengaduan terkait bullying, dengan mayoritas kasus terjadi di sekolah.
Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan ratusan kasus kekerasan di satuan pendidikan, di mana perundungan menjadi bentuk paling dominan.
Data gabungan lembaga pendidikan dan perlindungan anak menunjukkan sekitar 40 persen kekerasan di sekolah berkaitan dengan bullying, baik fisik maupun psikis.
Dalam beberapa kasus ekstrem, tekanan perundungan yang berkepanjangan berujung pada dampak psikologis berat hingga kematian.
Angka tersebut menegaskan bahwa bullying bukan insiden sporadis, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan penanganan lintas sektor dan berbasis bukti.
Ragam Kasus Bullying di Indonesia
- Bullying fisik — pemukulan, penendangan, atau intimidasi berkelompok di sekolah.
- Bullying verbal dan psikologis — ejekan, penghinaan, ancaman, serta tekanan mental berulang.
- Bullying sosial — pengucilan dan perusakan reputasi korban.
- Cyberbullying — perundungan melalui media sosial, kolom komentar, dan aplikasi pesan.
Jenis terakhir menunjukkan tren peningkatan seiring tingginya penetrasi internet di kalangan anak dan remaja.
Topik Perbincangan di Media Sosial
- Analisis percakapan warganet menunjukkan beberapa topik utama yang paling sering dibahas:
- Video atau rekaman kejadian bullying di sekolah
- Kesaksian korban dan keluarga
- Kritik terhadap sekolah dan sistem pendidikan
- Seruan aktivis dan komunitas anti-bullying
- Diskusi kebijakan perlindungan anak dan regulasi digital
Percakapan Bullying di Media Sosial Meningkat Tajam, Didominasi Sentimen Negatif

Pemantauan percakapan digital terkait kata kunci “bullying” menunjukkan tingginya atensi publik sepanjang periode 1 September–30 November 2025. Berdasarkan data dashboard social listening IndSight, isu perundungan menjadi salah satu topik sosial yang paling intens dibicarakan warganet dalam tiga bulan terakhir.
Tercatat 328,7 ribu percakapan (total talk) dengan melibatkan 38,7 ribu akun unik (total talker) di berbagai platform media sosial. Angka ini mencerminkan luasnya jangkauan isu bullying serta tingginya partisipasi publik dalam mendiskusikan kasus-kasus yang terjadi.
Melalui platform social listening seperti IndSight, pemangku kepentingan dapat memantau volume percakapan, topik dominan, hingga aktor kunci yang mendorong viralitas isu bullying secara real time.
Sentimen Negatif Mendominasi Percakapan
Analisis sentimen menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai bullying didominasi oleh nada negatif. Dari total percakapan yang terhimpun, terdapat sekitar 80,1 ribu percakapan bernada negatif, jauh lebih tinggi dibandingkan 5,8 ribu percakapan bernada positif.
Dominasi sentimen negatif mengindikasikan kuatnya ekspresi kemarahan, keprihatinan, empati terhadap korban, serta kritik terhadap lingkungan sekolah, pelaku, maupun sistem yang dinilai gagal melindungi anak dari praktik perundungan.
Lonjakan Percakapan Dipicu Kasus Viral

Grafik day-to-day conversation memperlihatkan sejumlah lonjakan signifikan, khususnya pada Oktober hingga November 2025. Puncak percakapan harian mencapai puluhan ribu mention dan berkorelasi dengan kasus bullying viral, baik berupa video, tangkapan layar percakapan, maupun pemberitaan media daring.
Lonjakan ini menegaskan peran media sosial sebagai akselerator opini publik sekaligus sumber tekanan sosial terhadap institusi terkait.
Aktor Percakapan dan Pola Distribusi

Data Top Talker menunjukkan bahwa percakapan tidak hanya digerakkan oleh akun individu, tetapi juga melibatkan akun media dan figur publik. Kehadiran media arus utama memperluas jangkauan isu dan mendorong diskusi lintas platform.
Sementara itu, word cloud menampilkan kata-kata dominan seperti “Indonesia”, “media”, “akun”, dan “informasi”, yang menandakan kuatnya keterkaitan isu bullying dengan konteks nasional dan pemberitaan digital.
Faktor yang Memperparah Bullying
Sejumlah faktor dinilai memperkuat maraknya perundungan, antara lain:
Minimnya pengawasan dan penegakan aturan di sekolah
Rendahnya literasi kesehatan mental
Normalisasi kekerasan verbal
Penggunaan media sosial tanpa pendampingan orang dewasa
Solusi dan Rekomendasi
Pakar pendidikan dan perlindungan anak menilai penanganan bullying harus dilakukan secara menyeluruh:
- Sekolah: menerapkan kebijakan anti-bullying yang tegas dan sistem pelaporan aman.
- Orang tua: meningkatkan komunikasi dan pendampingan digital.
- Pemerintah: memperkuat regulasi perlindungan anak dan literasi digital.
- Masyarakat & platform digital: menciptakan ruang aman serta mekanisme moderasi yang efektif.
Data kasus dan percakapan publik menegaskan bahwa bullying di sekolah dan media sosial masih menjadi ancaman nyata. Tanpa pendekatan berbasis data dan langkah sistemik yang berkelanjutan, perundungan berpotensi terus berulang dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi generasi muda.
Ingin mengetahui pola percakapan, sentimen publik, dan aktor kunci di balik isu bullying secara mendalam?
Gunakan IndSight, platform Social Media Monitoring & Social Listening untuk memantau isu bullying secara real time, berbasis data, dan akurat mulai dari volume percakapan, analisis sentimen, hingga tren viral yang berpotensi berdampak luas.