IndSight – Percakapan digital di Indonesia pada Juni 2025 didominasi oleh satu topik utama: pakaian. Data menunjukkan bahwa 83% perhatian warganet tertuju pada produk fashion (fesyen), mengungguli bahan baku (14%) dan teknik produksi (3%). Di dalam kategori produk, busana (apparel) mendominasi dengan 86% share-of-voice, meninggalkan aksesori dan tekstil rumah tangga jauh di belakang.
Mengapa Textile Pakaian Meledak? Tiga Alasan Utama
- Fokus pada Kebersihan dan Fungsi: Setelah dua tahun isu kebersihan menjadi sorotan, warganet kini mencari fitur fungsional pada pakaian. Topik seputar bahan antibakteri muncul sebanyak 324 kali sepanjang bulan. Inovasi tekstil yang sebelumnya dianggap “klinis” kini menjadi nilai gaya hidup yang dicari.
- Dominasi Konten Visual: Platform digital dipenuhi dengan konten visual yang mudah dikonsumsi, seperti OOTD (outfit of the day), video haul, dan “one-day look”. Konten ini mempercepat daya serap audiens dan mendorong reshare yang masif.
- Pengaruh Musim Peralihan: Bulan Juni menjadi masa transisi menuju musim kemarau. Warganet mencari pakaian yang ringan namun tetap bisa dilayering untuk malam yang berangin. Ini mendorong kata kunci “jaket rajut” meroket, menunjukkan kebutuhan akan pakaian yang fleksibel.

Sentimen Positif dan Kritik Konstruktif Terkait Textile
Dialog seputar fesyen didominasi oleh sentimen positif (83%), dengan kritik yang berfokus pada harga dan ketersediaan ukuran. Hal ini menandakan pasar yang siap menyerap produk baru asalkan harganya terjangkau dan pilihan ukurannya inklusif. Pujian paling banyak diberikan untuk kain antibakteri yang nyaman saat digunakan dalam waktu lama.
Tren Tersembunyi: Serat Tumbuhan dan Aksesori
Walaupun percakapan tentang bahan baku kecil, diskusi yang ada menunjukkan tren menarik. Serat tumbuhan menjadi topik utama (92%) dalam percakapan material, terutama untuk pakaian dalam yang dianggap “lebih adem dan ramah kulit”. Ini mengindikasikan bahwa label “plant-based” bukan hanya jargon lingkungan, melainkan bahasa baru untuk kenyamanan.

Sementara itu, meskipun porsi percakapan aksesori hanya 6%, tren “jaket rajut” mengonfirmasi perannya sebagai pelengkap. Merek yang cerdas bisa memanfaatkan momen ini dengan menawarkan paket kombinasi seperti kaos dasar dan outer rajut.
Kesimpulannya, data Juni 2025 memberikan sinyal jelas: konsumen Indonesia tidak hanya mencari gaya, tetapi juga fungsi, kenyamanan, dan narasi keberlanjutan. Merek yang mampu menggabungkan visual menarik, teknologi kain higienis, dan cerita ramah lingkungan akan menjadi pemimpin di industri fesyen.
Tertarik dengan Riset yang Lebih Dalam?
Data ini hanya di permukaan. IndSight memungkinkan Anda menyelam lebih dalam ke tren, sentimen, dan narasi publik. Kunjungi situs kami, daftar sekarang, dan dapatkan 20 koin gratis untuk mengidentifikasi peluang bisnis atau riset pasar yang tak terlihat.