IndSight – Tren positif terhadap mobil listrik semakin menguat, dengan 69% netizen menunjukkan ketertarikan yang tinggi. Bukan hanya karena dianggap sebagai solusi ramah lingkungan, keputusan membeli kendaraan juga didominasi oleh faktor desain yang memukau. Analisis mendalam menunjukkan, desain menyumbang 37% dari keputusan pembelian, mengungguli faktor harga (23%) dan spesifikasi (17%).
Aspek desain yang paling memikat perhatian adalah interior futuristik, sporty, dan modern, yang menjadi fokus pembahasan utama (80%). Sementara itu, di bagian eksterior, desain gril tertutup yang bersih dan elegan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli kendaraan listrik.
Dilema di Balik Kecanggihan Mobil Listrik: Persepsi Positif dan Tantangan Negatif
Di balik popularitasnya, mobil listrik juga menyimpan sejumlah dilema. Netizen menyoroti berbagai keunggulan, mulai dari efisiensi energi, minimnya kebisingan, hingga pajak yang lebih ringan. Namun, tidak sedikit pula tantangan yang menjadi sorotan.
Harga kendaraan listrik yang masih tinggi, layanan purna jual yang belum optimal, serta isu lingkungan terkait penambangan nikel untuk bahan baku baterai, kerap memicu persepsi negatif.
Meskipun baterai mobil listrik menawarkan durabilitas dan perawatan yang minim, keluhan tentang dampak lingkungan dan potensi masalah seperti korsleting serta penurunan performa setelah pemakaian jangka panjang masih sering disuarakan.
Dominasi Brand Asia dan Harapan untuk Infrastruktur Kendaraan Listrik yang Merata
Pasar mobil listrik di Indonesia didominasi oleh brand-brand asal Asia (83%). BYD muncul sebagai pemimpin dengan volume pembahasan tertinggi, diikuti oleh Wuling, Chery, dan VinFast. Menariknya, pembahasan paling hangat justru terjadi di segmen kendaraan listrik kelas menengah, menunjukkan adanya pergeseran fokus konsumen.
Penggunaan kendaraan listrik juga terbilang spesifik, di mana 51% penggunanya beraktivitas di dalam kota, dengan 68% digunakan untuk perjalanan ke kantor. Sementara itu, untuk perjalanan luar kota, 47% pengguna mengandalkan kendaraan listrik untuk keperluan liburan.
Peran pemerintah pun tak luput dari sorotan. Sebesar 39% pembahasan mengenai kebijakan pemerintah berpusat pada insentif subsidi dan pajak. Meskipun demikian, masih banyak kritikan dilayangkan terkait harga mobil listrik yang dinilai tetap mahal, serta kurangnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), khususnya di luar Pulau Jawa.
Topik Perbincangan Terkait Mobil Listrik
Analisis IndSight menunjukkan minat publik terhadap mobil listrik di media sosial menurun drastis pada Juli 2025. Total percakapan anjlok hampir 70% menjadi 34.600, dengan jumlah pembicara turun 48% menjadi 6.600 orang.
Sentimen positif berkurang 62%, sementara sentimen negatif turun lebih ekstrem, 84,6%. Penurunan masif ini menandakan topik mobil listrik tidak lagi menjadi perbincangan hangat, meskipun sempat ada lonjakan percakapan di pertengahan bulan. Secara keseluruhan, antusiasme publik di ruang digital terhadap mobil listrik sedang memasuki fase lesu.
Masa Depan Kendaraan Listrik: Lebih dari Sekadar Teknologi
Masyarakat menaruh harapan besar agar pengembangan kendaraan listrik tidak hanya terfokus pada inovasi teknologi. Ada tuntutan agar mobil listrik lebih mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, menjadi solusi transportasi yang benar-benar berkelanjutan, dan didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dengan begitu, kendaraan listrik dapat mewujudkan janji sebagai kendaraan masa depan yang ramah lingkungan dan terjangkau bagi semua.
Tertarik dengan Riset yang Lebih Dalam?
Data ini hanya di permukaan. IndSight memungkinkan Anda menyelam lebih dalam ke tren, sentimen, dan narasi publik. Kunjungi situs kami, daftar sekarang, dan dapatkan 20 koin gratis untuk mengidentifikasi peluang bisnis atau riset pasar yang tak terlihat.